Penyesalan

Udara pada pagi hari ini tampak cerah dan terasa sejuk. Seorang remaja dengan rambut acak-acakan baru terbangun dari tidurnya, tanganya meraba raba bawah bantal untuk mencari letak hpnya. Setelah ketemu ia membuka kunci layar hp tersebut dengan mata yang masih mengantuk, ternyata masih pukul 6 pagi. Sebenarnya ia ingin melanjutkan tidurnya sebentar lagi tetapi saat melihat kearah jendela ia mengurungkan niatnya dan beranjak dari tempar tidurnya menuju jendela tersebut. Remaja tersebut menyibakkan gorden berwarna biru dan membuka jendela, matanya terpaku pada langit yang masih berwarna kekuningan.

Haikal Guadhitama seorang remaja sederhana yang sangat suka memandangi langit terlebih lagi jika langit itu sedang berwarna biru. Menurut dia dengan menatap langit banyaknya beban yang ia pikul seolah hilang satu persatu. Selain itu dia juga mempunyai hobi bermain basket. Bahkan dalam sekolahanyapun ia menjadi ketua tim basket.

Seseorang yang lebih tua satu tahun dari Haikal mengendap mendap masuk ke kamar Haikal. Benar tebakan bang Hilal yaitu kakak Haikal ia sudah hafal jika pagi pagi haikal akan melamun di depan jendela dan memandangi langit. Belum sempat bang Hilal mengkageti adeknya tersebut tetapi Haikal dengan cepat menoleh kebelakang seolah sudah hafal dengan sifat abangya itu. Hilal menyebikkan mulutnya karena tidak berhasil mengerjai adiknya tersebut. Haikal segera pergi untuk mandi setelah mentertawai wajah kakanya yang masih kesal itu.

Setelah selesai dengan semua perlengkapan sekolah dan serangamnya yang rapi Haikal segera menuju meja makan untuk makan bersama dengan Ayah dan Kakaknya. Ternyata mereka sudah dulu berada di meja makan. Haikal yang melihat ayah dan abangnya bisa bercanda dan tertawa dengan puas membuat hati kecil haikal sedikit iri. Mengetahui kedatangan Haikal tiba tiba suasana terasa berbeda.

Setelah selesai sarapan pagi Haikal langsung berpamitan kepada kedua orang itu. Haikal segera mengambil sepedahnya yang ada di garasi rumah. Sebenarnya abangnya menawarinya untuk berangkat bersama naik montor tetapi Haikal menolak, hitung hitung olahraga karena tempat sekolahanya juga tidak jauh dari rumah.

Hari ini hari kamis yaitu hari yang sudah dinanti nanti oleh Haikal. Karena hari ini ada lomba olahraga basket antar SMA. Tentu saja Haikal antusias karena hari ini ia harus buktikan keayahnya jika dia bisa mendapatkan juara satu saat pulang. Haikal bukanlah orang yang pintar di bidang akademis tetapi juga bukan orang yang malas belajar. Walaupun ia sudah belajar semalaman ia tetap mendapatkan nilai yang kurang baik, dan itu yang membuat sang Ayah sering membandingkan dirinya dengan abangnya.

Tim olahraga basket antar SMA Rasi Bintang yang diketuai oleh Haikal berhasil memperoleh juara satu. Haikal lagi lagi membuat bangga bapak ibu guru dan teman teman di sekolahnya. Semua berbondong bondong mengucapkan selamat kepada Haikal. Bahkan abangnya pun turut hadir dilomba tersebut dan terlihat bahagia untuk Haikal. Tetapi masih ada yang mengganjal di hati Haikal yaitu ayahnya, mata haikal kesana kemari mencari ayahnya tetapi nihil ayahnya tidak datang? padahal beliau sudah berjanji untuk datang ke lomba kali ini. Haikal tersenyum kecut dan sedikit kecewa tetapi ia masih berusaha untuk positif thingking mungkin sang ayah benar benar sibuk. Bukankah ia masih bisa bertemu dirumah dan memberitahunya.

Disepanjang perjalanan pulang Haikal tidak berhenti tersenyum. Orang orang yang melewati Haikal pasti mengira jika Haikal itu sudah gila. Sesampainya dirumah haikal segera memarkirkan sepedahnya di halaman rumahnya. Iya masih mengalungi medali dan mengeluarkan piala juara satunya di tas. Ia sangat tidak sabar untuk menunjukkan kepada ayahnya itu. Tenyata ayahnya itu tidak ada dirumah Haikal memutuskan untuk menunggu di sofa ruang tamu. Lama sekali Haikal menunggu ayahnya yang tidak kunjung pulang sampai sampai ia ketiduran.

Bunyi pagar rumah terbuka menandakan Pak Guadhitama sudah pulang dari kerjaanya. Haikal segera terbangun dan membuka pintu rumah tetapi saat melihat ayah dan kakaknya pulang bersama Haikal sedikit terkejut, jadi ayahnya tidak sibuk bekerja melainkan jalan jalan dengan abangnya?. Haikal bertanya tanya dalam hati tetapi ia segera membuang pikiran buruknya itu. Saat berada di depan pintu haikal menyambut kedua orang tersebut dengan senyum yang tulus. Haikal segera menunjukkan piala tersebut dengan antusias kepada ayahnya. Akan tetapi yang ia dapat bukannya pujian tetapi malah omelan dari ayahnya. Pak Guadhitama mengakatan bahwa Haikal selalu bemain main tidak seperti kakaknya yang selalu mendapat juara satu dikelasnya. Padahal Haikal juga sudah berja keras untuk mendapatkan juara satu ini. Abangnya yang melihat kejadian itu merasa kasihan kepada haikal tapi dia juga tidak bisa melakukan apa apa.

Setelah kejadian itu Haikal sudah tidak bisa berfikir dengan jernih ia mengunci diri dikamar. Ia ingin sekali marah tetapi tidak bisa yang ia bisa lakukan hanyalah menagis. Sebenarnya salah Haikal dimana sampai sampai ayahnya sendiri selalu tidak menganggap keberadaan Haikal. Ia juga ingin pintar seperti abangnya tetapi bukankah Haikal sudah berusa?. Apakah salah jika Haikal ingin mengembangkan Hobinya dengan mengikuti kegiatan yang berhubungan dengan basket. Kepalanya terus terusan memberikan pertanyaan yang dia sendiri tidak tau jawabannya.

Malam ini terasa sangat dingin dari biasanya Haikal hanya melamun memandangi langit yang gelap. Ia teringat sosok wanita cantik yang selalu menyemangatinya dulu, bahkan ia selalu mendukung keputusanya untuk bermain basket. Wanita itu adalah ibunya Haikal, Bu Tarti sayangnya ia sudah meninggal 2 tahun yang lalu. Beliau sangat sayang kepada Haikal berbeda dengan sekarang tidak ada yang memberikan Haikal semangat lagi.

Ditengah tengah lamunannya Haikal, pak Guadhitama mengetuk pintu kamar Haikal ia berniat untuk minta maaf kepada Haikal ia sadar jika tadi ia terlalu kasar kepada anak bungsunya itu. Haikal menyuruh ayahnya untuk langsung masuk ke kamarnya. Pak Guadhitama melihat sekeliling kamar yang sederhana dengan cat biru matanya berhenti setelah melihat lemari yang penuh dengan piala dan tertata rapi. Darimana saja Pak Guadhitama selama ini ia baru sadar jika anak bungsunya itu juga berprestasi. Hampir 5 menitan pak Guaditmana melamun di depan pintu kamar, setelah tersadar dari lamunannya Pak Guadhitama segera masuk dan duduk di kursu yang ada di meja belajar Haikal.

Pak Guadhitama dengan tulus meminta maaf kepada Haikal ia sadar akan kelakuannya yang memaksakan kehendaknya terhadap Haikal. Seharusnya ia memberi semangat kepada Haikal bukanya malah mengekang. Haikal yang sedari tadi diam saja tiba tiba meneteskan air matanya Haikal juga meminta maaf kepada ayahnya itu jika ia belum bisa jadi anak yang diharapkan oleh ayahnya. Ia berjanji untuk ujian kali ini Haikal akan mendapatkan juara di kelasnya. Pak Guadhitama sangat tersentuh melihat putra bungsunya yang penuh semangat dan tersenyum lebar. Ia sangat menyesal saat mengingat ia suka memarahi Haikal. Padahal Haikal itu anak yang baik dan ceria.

Leave a Reply

Your email address will not be published.