Persahabatan

Nadia Samer –Halo teman-teman aku punya sedikit cerita tentang anak perempuan yang bernama Niskala Senja Atlana. Niskala biasa dipanggil Lala.

Niskala anak pertama dari dua bersaudara. Ayah nya bernama Pratama Andara dan Ibu nya bernama Fatmala Ayu. Lala berumur 14 tahun, ia sudah duduk dibangku kelas 2 Sekolah Menengah Pertama [SMP].

Adik Niskala bernama Nando Pratama, Niskala berasal dari keluarga yang sederhana. Nando baru saja memasuki umur 4 tahun, ia juga sudah sekolah. Saat ini adik Niskala tengah duduk di Taman Kanak-kanak[TK].

Niskala dan keluarganya tinggal di perumahan anggrek no 07 Kota Surabaya. Niskala memiliki seorang sahabat sejak kecil yang bernama Kanaya. Panggilan akrab Lala untuk Kanaya adalah Naya.

Dulu tempat tinggal mereka berdekatan.Sekarang mereka sudah tidak pernah bertemu dikarenakan Kanaya ikut pindah dengan keluarga nya keluar kota.

Suatu hari ketika libur sekolah, Niskala duduk santai di teras menunggu sahabatnya keluar rumah. Sudah hampir setengah jam tetapi sang sahabat tidak keluar juga. Niskala sampai bosan menunggu.

Niskala memutuskan untuk mendatangi rumah sahabatnya. Tetapi saat sampai di depan rumah Naya, Lala merasa rumah sahabatnya itu sepi. Niskala berpikir mungkin Naya sedang keluar untuk berlibur keluar kota dengan keluarganya.

Niskala memutuskan untuk kembali kerumahnya. Ketik sudah sampai dirumah, Niskala mendengar ibunya sedang berbicara lewat telepon. Sekilas yang Niskala dengar adalah mengenai pindah rumah.

Mendengar hal itu Niskala mendatangi ibunya, Niskala bertanya kepada ibunya siapa yang menelpon. Ibunya menjawab bahwa yang menelpon adalah teman lama memberitahu bahwa sudah kembali ke tempat tinggal lamanya.

Niskala bertanya kepada ibunya, apakah tahu kemana sahabatnya pergi. Ibunya diam sebentar lalu menggelengkan kepalanya, menandakan bahwa dirinya tidak tahu.

Niskala sedih dan kecewa kenapa Kanaya pergi tanpa memberitahunya dahulu. Niskala lalu berlari ke kamarnya. Ibunya menyusul Niskala masuk ke dalam kamar karena tidak tega melihat Lala seperti ini.

Ibunya duduk disamping Lala yang tengah menangis, beliau menenangkan Lala untuk berhenti menangis. Ibunya berkata agar Lala tidak bersedih, suatu hari nanti kalian pasti akan bertemu kembali.

Hari demi hari terus berlanjut, Niskala melalui setiap waktu dan harinya tanpa sahabatnya. Saat ini Lala sudah kembali ke sekolah setelah melalui hari libur yang sangat menyedihkan bagi nya.

Saat pelajaran berlangsung, ketika guru menerangkan di depan. Bukannya mengamati Niskala justru malah melamun. Gerak-gerik Lala diketahui oleh guru. Gurunya memanggil Niskala , sekali dua kali Niskala masih belum mendengar. Panggilan ketiga, ketika guru memanggil nya dengan keras baru Niskala mendengar.

Niskala sangat terkejut mendengarnya, ia tidak fokus. Guru itu meminta Niskala untuk menjelaskan kembali apa yang sudah diterangkan sebisa Lala saja. Niskala diam, ia bingung harus menjelaskan mulai darimana.

Sudah lama diam, guru kembali bertanya kepada Lala. Apa Niskala tidak mendengarkan yang sudah di diterangkan. Niskala mengangguk, guru menghela nafas panjang lalu meminta Lala untuk keluar dari kelas dan berdiri ditengah lapangan.

Bulir-bulir keringat membasahi dahi Lala, pandangan Lala mendadak kabur. Seluruh tubuh Lala sangat lemas ia jatuh pingsan. Seseorang yang melihat Lala pingsan segera memanggil petugas kesehatan.

Mereka membopong Lala menuju ke Unit Kesehatan Siswa (UKS). Tubuh Lala sangat dingin, seseorang itu merasa sangat cemas dengan kondisi Lala. Petugas kesehatan meminta seseorang itu untuk pergi terlebih dahulu.

Mereka mengolesi minyak  kayu putih di tangan, kaki, dan bagian yang bisa di olesi. Setelah selesai mereka berpamitan pergi, tetapi sebelum pergi mereka meminta tolong kepada seseorang itu jika tidak sibuk untuk menjaga Niskala.

Sudah hampir satu jam menunggu Niskala sadar, ia ketiduran. Ia tidak menyadari kalau Niskala sudah sadar. Niskala membuka matanya perlahan, kepalanya sedikit pusing juga badan nya sangat lemas.

Niskala melihat sekelilingnya, ia menyadari sebelum di ruangan ini Niskala tadinya diberi hukuman untuk berdiri di tengah lapangan di bawah tiang bendera.

Niskala menyadari jika ada seseorang di samping tempat tidurnya, tangan Niskala terangkat berniat untuk membangunkan orang itu. Belum sampai menyentuh , orang itu lebih dulu bangun.

Orang itu melihat ke arah Niskala, ia terkejut mengetahui jika Niskala sudah sadar. Ia berdiri berniat untuk menjauhkan diri dari Niskala, tetapi kalah cepat dengan tangan Niskala yang memegang lengan nya.

Niskala juga tidak kalah terkejut melihat orang itu, Niskala syok. Niskala bingung harus memulai darimana, begitupun orang itu. Setelah sekian lama saling menatap dan diam satu sama lain, Niskala memberanikan diri untuk bertanya terlebih dahulu.

Niskala bertanya apa benar jika orang itu adalah sahabat nya. Orang itu diam, ia bingung harus menjawab apa. Niskala menggoyangkan tubuh orang itu , memaksa orang itu agar menjawab.

Orang itu mengangguk, Niskala tersenyum haru. Niskala memeluk orang itu erat, Niskala menangis. Orang itu membalas pelukan Niskala dengan ragu.

Setelah lama berpelukan Niskala melepas pelukannya, orang itu baru menyadari kalau Niskala baru saja sadar dari pingsannya. Kanaya meminta Niskala untuk kembali duduk ataupun berbaring di ranjang tidurnya.

Niskala menolak, ia justru melompat kesana-kemari untuk menunjukan bahwa dirinya sudah baik-baik saja. Niskala memegangi kepala nya yang terasa pusing kembali.

Melihat hal itu Kanaya semakin khawatir, lalu membantu Niskala untuk kembali ke ranjangnya. Memberi teh hangat yang sudah disiapkan petugas tadi.

Kondisi Niskala sudah kembali membaik, bel istirahat berbunyi. Kanaya mengajak Niskala untuk pergi ke kantin bersama untuk membeli makanan serta minuman. Niskala tersenyum lalu mengangguk.

Mereka berdua pergi ke kantin bersama. Sesampainya di kantin mereka bingung akan duduk dimana, karena kantin sangat ramai. Kanaya melihat sekeliling lalu ia melihat ada meja dan bangku makan yang kosong di pojok sebelah kantin.

Kanaya memberitahu Niskala jika masih ada tempat kosong, ia menyuruh Niskala untuk duduk kesana terlebih dahulu. Biar Kanaya yang memesan makanannya. Niskala mengangguk, lalu ia berjalan menuju ke arah meja makan itu.

Melihat Niskala seperti itu, Kanaya merasa sangat bersalah. Lalu Kanaya berjalan untuk memesan makanan dan minuman. Niskala melihat Kanaya dari tempat duduk nya.

Ia tersenyum bahagia, akhirnya Niskala bisa bertemu dan bersama dengan sahabatnya. Masih memperhatikan Kanaya untuk memesan makanan.

Niskala mendengar ada bel berbunyi juga melihat ada cahaya sangat silau hingga membuat Niskala menutup matanya. Niskala kembali membuka matanya, ia menyadari bahwa diri nya saat ini tengah berada di dalam kamar dan cahaya yang ia lihat tadi adalah cahaya matahari yang masuk lewat cendelanya yang sedikit terbuka.

Niskala menyadari bahwa pertemuannya dengan Kanaya tadi hanyalah sebuah bunga tidur. Niskala menangis. Ibunya yang mendengar Niskala menangis mendatangi kamar anaknya.

Ibunya bertanya, apa yang terjadi dan kenapa Niskala menangis. Bukannya menjawab Niskala malah bertanya kemana sahabatnya pergi dan juga tidak segera kembali.

Ibunya mendengar hal itu merasa sangat bersalah karena telah menutupi suatu hal yang ia ketahui. Ibunya meminta agar Niskala berjanji untuk tidak menangis. Niskala mengangguk dan segera menghapus air matanya.

Ibunya menghela nafas panjang lalu menceritakan yang sudah terjadi. Niskala kembali menangis sesenggukan. Ibunya memeluk Niskala kembali , Niskala menangis di pelukan ibunya.

Terlalu lama menangis Niskala tertidur, lalu Ibunya membaringkan dan menyelimuti Niskala. Pagi nya Niskala meminta ibunya agar mengantar ia ketempat sehabatnya.

Sesampai nya di tempat tujuan, mereka masuk ke area pemakaman. Ibunya memimpin jalan, mereka berhenti di makam yang masih baru, bahkan bunga nya pun juga masih segar. Mungkin baru saja ada yang menyekarnya.

Ibunya duduk disamping makam disusul Niskala, Niskala memegang Batu Nisan yang bertuliskan KANAYA. Niskala memeluk nisan itu sambil menangis. Lalu ibunya memeluk alih Niskala dan meminta Niskala agar mendoakan Kanaya terlebih dahulu.

Berdoa selesai. Niskala menaburkan bunga yang ia bawa tadi dan dibantu ibunya. Mereka berdiri lalu berjalan pergi meninggalkan pemakaman. Sampai di pintu keluar Niskala berhenti dan menoleh ke arah makam Kanaya tadi lalu tersenyum.

Ibunya menepuk bahu Niskala , lalu Niskala menoleh ke arah ibu nya. Mereka mengangguk, lalu melanjutkan jalannya menjauh dan pergi dari pemakaman.

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published.